√ Pengertian ROE (Return On Equity), Rumus dan Contohnya

Posted on

Pengertian ROE (Return On Equity), Rumus dan Contohnya – Pada kesempatan ini Studi News akan membahas tentang ROE. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan pengertian ROE (Return in Equity), rumus, cara menghitung, dan contohnya dengan secara singkat dan jelas. Unutk lebih detailnya simak artikel berikut ini.

Pengertian ROE (Return On Equity), Rumus dan Contohnya

Return On Equity (ROE) adalah pengukuran penting bagi calon investor baru. Karena investor tersebut dapat mengetahui seberapa efisiennya sebuah perusahaan dalam menggunakan uang yang di investasikan tersebut untuk menghasilkan laba bersih.

Pengertian Rumus ROE

Rumus ROE (Return On Equity) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Resio Pengambilan Ekuitas merupakan Rasio Profitabilitas yang mengukur suatu kemampuan pada sebuah perusahaan, untuk menghasilkan laba dari investasi pemegang saham dari perusahaan tersebut.

Dari sisi lain, Rumus ROE dapat difungsikan sebagai seberapa banyak keuntungan yang dapat dihasilkan oleh sebuah perusahaan dari setiap satu Rupiah yang diinvestasikan oleh para pemegang saham pada perusahaan tersebut, dan biasanya ROE dinyatakan dalam persentase (%).

Berarti apabila suatu perusahaan mendapatkan Rp.10.000.000, dari ekuitas pemegang saham, maka dapat menghasilkan Rp.10.000.000 dari laba bersih, tetapi ini terjadi apabila ROE dengan rasio 100%.

Baca Juga:  √ Pengertian Pertumbuhan Ekonomi, Ciri, Faktor dan Contohnya

ROE (Return On Equity) juga dapat dijadikan sebagai indikator, untuk menilai seberapa efektifnya sebuah perusahaan memanagementkan untuk menggunakan pembiayaan ekuitas untuk mendanai suatu operasional pada perusahaan dalam mensukseskan perusahaannya tersebut.

Cara Menghitung dan Rumus ROE

Berikut ini merupakan Rumus ROE berserta cara menghitung Return On Equity (ROE), yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan Rasio Pengembalian Ekuitas.

Rumus ROE (Return On Equity)

Rasio Return On Equity (ROE) dihitung yaitu dengan cara membagi laba bersih pada ekuitas pemegang saham tersebut.

Return On Equity (ROE) = Laba bersih setelah Pajak / Ekuitas Pemegang Saham.

Pada umumnya Return on Equity (ROE) ini dihitung sebagai pemegang saham biasa (Common Shareholders).

Pada hal ini Dividen Preferen tidak termasuk dalam perhitungan, karena jenis dividen ini tidak tersedia untuk para pemegang saham biasa, dan dividen preferen dikeluarkan dari perhitungan laba bersih (Net Income).

Contoh Kasus Perhitungan ROE

Sebuah laporan keuangan yang diterbitkan per tanggal 01 Januari 2019, PT. Jaya Putra yang bergerak di sektor industri memiliki laba bersih setelah pajak sebesar Rp. 600.000.000, total ekuitas para pemegang saham adalah sebanyak Rp. 900.000.000.

Seberapa banyak kah rasio pengembalian ekuitas atau Return of Equity (ROE) pada PT. Jaya Abadi tersebut?

Laba bersih setelah Pajak / Ekuitas Pemegang Saham

Rp. 600.000.000 / Rp. 800.000.000

Hasil ROE pada perusahaan tersebut adalah 75 %

Jadi hasil Rasio pengembalian ekuitas pada PT. Jaya Putra pada tahun 2019 adalah sebesar 75 %.

Mengukur Urgensi Return On Equity (ROE)

Return On Equity (ROE) yaitu melukiskan dengan baik untuk mengukur sejauh mana sebuah perusahaan dalam menggunakan setiap rupiah yang mereka dapatkan.

Baca Juga:  √ Pengertian Manajemen, Fungsi, Tujuan, Macam, Manfaat & Prinsip

Oleh karena itu seorang investor harus selalu menelusuri sebuah pasar perlu untuk mendapatkan perusahaan yang bisa mendulang angka ROE yang baik dan masuk akal.

Contohnya apabila ada perusahaan yang mempunyai catatan ROE 8 %.

Tentu saja perusahaan dengan ROE 8 % ini akan kurang menarik bagi investor, jadi wajar saja karena deposito di Indonesia berada pada kisaran angka tersebut.

Para investor akan berfikir, buat apa memilih sebuah investasi yang beresiko tinggi apabila return yang diperoleh tak lebih baik dari instrument investasi tersebut yaitu Deposito, Sukuk dan Obligasi lainnya.

Pengertian ROE (Return On Equity) Rumus dan Contohnya

Return On Equity (ROE) dan Nilai Book Value

Return On Equity (ROE) dapat digunakan sebagai timbal balik suatu hasil yang nyata terhadap modal yang di investasikan oleh para investor.

Return On Equity (ROE) bisa dihitung dari Laba Bersih Per Saham (LBPS) kemudian dibagi dengan Book Value. Karena ROE besar akan meningkatkan book value yang besar pula, artinya meningkatkan nilai sebuah investasi meskipun harga pada saham tersebut di pasaran sedang mengalami penurunan nilai.

Namun pada perhitungan nyata terhadap book value adalah menurut pada harga saham yang investor beli.

Contohnya apabila seorang investor membeli sebuah saham ABC dengan nilai PBV 1 dan ROE sebesar 40 %, maka nilai investasinya meningkat sebesar 40 %.

Namun apabila seorang investor membeli sebuah saham ABCD dengan nilai PBV 2 dengan ROE yang sama, maka nilai investasinya hanya meningkat 20 %.

Dan jika seorang investor membeli sebuah saham ABCD dengan nilai PBV 0,5 dengan ROE yang sama, maka nilai investasinya meningkat 80 % secara tidak langsung. Harga menentukan timbal balik hasil, pada Value Investing yang berarti semakin mahal pada sebuah saham maka timbal balik hasil akan semakin rendah.

Baca Juga:  √ Pengertian Pertumbuhan Ekonomi, Cara Mengukur & Teorinya Lengkap

Return On Equity (ROE) dan Return On Asset (ROA)

Return On Equity secara halus memperlihatkan suatu efesiensis dalam sebuah perusahaan menggunakan modalnya. Namun ROE tidak melibatkan sebuah hutang terhadap perhitungan pada efisiensi tersebut. Sehingga perusahaan dengan hutang yang besar akan terlepas dari indikator ini.

Karena itu banyak para investor yang tidak menggunakan Return On Equity (ROE), dan lebih menggunakan Return On Asset (ROA) sebagai indikatornya.

Sebab ROA memperlihatkan sebuah efisiensi suatu perusahaan dalam menggunakan seluruh aset  dan juga termasuk hutang-hutang pada perusahaan tersebut.

Demikian penjelasan tentang Pengertian ROE (Return On Equity), Rumus dan Contohnya. Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan Anda. Terima kasih.